Artikel
Memaafkan adalah Ciri Orang Bertakwa.
Tanggal : 27-03-2026 07:21, dibaca 4 kali.Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dalam suasana bulan Syawal yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, momentum Halal Bihalal ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah manifestasi dari upaya kita untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan. Setelah kita memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah), kini saatnya kita memperbaiki hubungan horizontal sesama manusia (hablun minannas).
Salah satu indikator utama keberhasilan puasa seseorang adalah meningkatnya ketakwaan. Dan tahukah Anda, bahwa salah satu ciri paling utama dari orang yang bertakwa bukanlah yang rajin salat malam saja, melainkan mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain di saat ia mampu membalasnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 134, yang berbunyi:
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Ayat ini menegaskan tingkatan yang tinggi bagi pemaaf. Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa dan pengendalian diri yang merupakan inti dari takwa itu sendiri.
Mengenai ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir monumentalnya, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, menjelaskan bahwa frasa "wal 'afina anin nas" (dan memaafkan kesalahan manusia) bermakna: "Mereka memaafkan orang yang berbuat zalim kepada mereka, sehingga mereka tidak memendam rasa dendam dalam hati mereka dan tidak menuntut balasan."
Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa Allah menutup ayat ini dengan "wallahu yuhibbul muhsinin" (Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan) untuk menunjukkan bahwa memaafkan adalah tahapan ihsan, yaitu tingkatan ibadah dan akhlak yang paling tinggi di sisi Allah.
Maka, saudaraku sekalian, marilah di momen Halal Bihalal ini kita lapangkan dada. Jangan biarkan noda kesalahan saudara kita mengotori hati kita yang telah dibasuh oleh Ramadan. Memaafkan adalah jalan pintas menuju surga yang seluas langit dan bumi.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk mudah memberi maaf dan ringan dalam meminta maaf. Mari kita jadikan pertemuan ini sebagai saksi gugurnya dosa-dosa di antara kita.
Allahumma inna nas'aluka qalban salima, wa lisanan shadiqa. Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Komentar :
Kembali ke Atas


Total Hits
Hari ini
Member Online